Macanasia.net|Medan – Organisasi Macan Asia Indonesia (MAI) Kota Medan terus menunjukkan komitmennya dalam merespons keresahan masyarakat terdampak banjir di ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Salah satu perhatian tersebut diberikan kepada korban banjir di Jalan Marelan I, Pasar IV, Lingkungan VIII, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Rabu 17-12-2025.
Di tengah cuaca mendung pada Selasa sore (16/12/2025), Ketua DPC MAI Kota Medan, Suwarno, S.E., M.M., didampingi Sekretaris Zullifkar AB, S.T., serta sejumlah pengurus, termasuk Ketua PAC MAI Medan Marelan Dedek Supriyanto beserta jajaran, menyambangi Hamdan, warga terdampak banjir yang telah dua pekan mengungsi di Masjid At Tarbiyah, Kelurahan Terjun.
Hamdan bersama istrinya, Sepriana Artika, dan lima orang anaknya terpaksa menjadikan masjid tersebut sebagai tempat tinggal sementara. Rumah orang tua istrinya yang sebelumnya menjadi tempat berteduh kini tak lagi layak dihuni, setelah mengalami kerusakan parah akibat banjir besar yang melanda Kota Medan pada 24 hingga 27 November 2025 lalu.
“Kurang lebih sudah dua minggu kami tinggal di masjid ini. Untuk kembali jelas belum bisa, karena rumah mertua saya rusaknya cukup parah dan belum ada biaya perbaikan. Ditambah lagi, sejak dua bulan terakhir saya sudah tidak bekerja sebagai sekuriti, sehingga tidak memiliki penghasilan tetap,” tutur Hamdan.
Keresahan akan masa depan keluarganya tampak jelas di wajah pria berusia sekitar 45 tahun tersebut. Meski demikian, ia tetap berusaha tegar dan menggantungkan harapan pada doa. “Alhamdulillah, doa saya didengar. Allah SWT mengirim bapak-bapak dari Macan Asia Indonesia Kota Medan dan Medan Marelan ke tempat ini,” ucapnya penuh haru.
Ketua DPC MAI Kota Medan, Suwarno, menyampaikan rasa syukurnya dapat merespons langsung kondisi yang dialami Hamdan. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut sejalan dengan arahan Ketua DPD MAI Sumut, RM. Khalil Prasetyo, agar MAI senantiasa hadir di tengah kesulitan masyarakat, khususnya pascabencana, baik melalui bantuan nyata maupun dukungan moril.
“Kami dari DPC Medan dan PAC Medan Marelan akan berupaya semaksimal mungkin membantu Pak Hamdan. Kami juga mengundang Bapak Lurah Terjun untuk bersama-sama mencarikan solusi terbaik atas permasalahan ini,” ujar Suwarno.
Ia menjelaskan, sebelum menemui Hamdan, pihaknya telah melakukan diskusi dengan sejumlah aparatur Pemerintah Kota Medan terkait skema bantuan pascabencana. “Pemerintah kota sebenarnya telah menyiapkan bantuan bagi warga terdampak, baik untuk kategori kerusakan ringan, sedang, berat, hingga rehabilitasi. Kami berharap Bapak Lurah Terjun dapat menjembatani agar bantuan tersebut benar-benar terealisasi,” tambahnya.
Respons positif pun datang dari Lurah Terjun, Lukmanul Hakim. Ia meminta Hamdan segera mendatangi Kantor Kelurahan Terjun untuk mengurus administrasi pengajuan bantuan. “Silakan datang ke kantor kelurahan, kapan pun ada waktu. Kami siap membantu pengurusan dokumen-dokumennya,” tegas Lukmanul Hakim.
Selain itu, ia juga mengapresiasi kepedulian dan kecepatan respons Macan Asia Indonesia dalam aksi kemanusiaan di sejumlah wilayah Kota Medan. “Sebelumnya DPC, kali ini PAC-nya juga turun langsung. Kami berharap konsistensi MAI terus berlanjut, termasuk dalam menyuarakan pentingnya normalisasi Sungai Bederah yang saat ini mengalami pendangkalan ekstrem,” ujarnya.
Kondisi Sungai Bederah sendiri menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir. Saat kondisi normal, tinggi permukaan air sungai hanya berkisar satu hingga dua meter. Namun ketika terjadi banjir kiriman dari hulu, air meluap hingga merendam permukiman warga di sekitar Kelurahan Terjun.
Hal tersebut dibenarkan Kepala Lingkungan XII, Jalan Marelan I, Pasar IV, Kelurahan Terjun, Syaiful Bahri. Ia menyebut Sungai Bederah telah mengalami sedimentasi parah karena tidak pernah dilakukan pengerukan selama 10 hingga 15 tahun terakhir. “Saat hujan ekstrem kemarin ditambah banjir rob, ketinggian air mencapai dada orang dewasa. Genangan juga lama surut akibat alur sungai yang menyempit serta saluran drainase yang tidak berfungsi optimal,” jelasnya.
Sebagai warga yang lahir dan besar di wilayah tersebut, Syaiful berharap banjir besar tidak kembali terulang. “Tahun 1956 pernah terjadi banjir hebat, lalu kini terulang kembali. Kami sangat berharap Pemko Medan bersama Balai Wilayah Sungai melakukan normalisasi Sungai Bederah agar kejadian seperti dua minggu lalu tidak terjadi lagi,” pungkasnya.
Sumber: Humas MAI Medan
