Program yang seharusnya menopang pemenuhan gizi siswa itu justru dipertanyakan setelah menu yang diterima untuk konsumsi tiga hari dinilai tidak mencerminkan prinsip gizi seimbang dan diduga mengalami penyusutan porsi.
Berdasarkan temuan di lapangan, satu paket MBG berisi 1 butir telur ayam, 1 buah jeruk, 1 buah manggis, 1 kotak susu, 2 roti, 3 butir kurma, 1 bungkus klip kacang polong, 1 bungkus kacang koro, serta 1 saset snack makanan ringan. Komposisi tersebut dinilai paling mencolok karena keberadaan makanan ringan dianggap tidak relevan dengan tujuan utama pemenuhan gizi anak.
Sejumlah wali murid mempertanyakan kelayakan paket tersebut jika harus mencukupi kebutuhan gizi siswa selama tiga hari penuh.
“Kalau ini untuk tiga hari, jelas sangat kurang. Anak butuh makan bergizi setiap hari, bukan sekadar simbolis,” ujar salah satu wali murid kepada wartawan, Selasa (24/2).
Orang tua siswa lainnya menegaskan bahwa pihaknya mendukung program MBG, namun meminta pelaksanaan di lapangan tidak menyimpang dari tujuan awal.
“Programnya bagus, tapi pelaksanaannya harus sesuai. Jangan sampai anggaran besar tapi yang diterima anak-anak minim,” keluhnya.
Kritik juga datang dari Gabungan Aktivis Pemberantas Korupsi asal Sampang. Mereka menilai komposisi paket belum mencerminkan standar gizi seimbang dan berpotensi menimbulkan persoalan serius jika tidak segera dievaluasi.
Koordinator aktivis menyebut estimasi nilai keseluruhan paket hanya berkisar Rp21 ribu.
“Jika benar ini jatah tiga hari dengan nilai sekitar Rp21 ribu, maka perlu audit terbuka. Kami khawatir ada pengurangan dari standar yang seharusnya,” tegasnya.
Para aktivis mendesak pemerintah daerah, pengelola program, serta pihak terkait segera melakukan verifikasi lapangan dan membuka rincian anggaran secara transparan. Mereka menekankan bahwa program pemenuhan gizi tidak boleh sekadar formalitas administratif tanpa jaminan kualitas.
“Kami minta ada evaluasi menyeluruh. Program pemenuhan gizi jangan sampai kehilangan substansi hanya karena lemahnya pengawasan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak SPPG Mitra Laila belum memberikan keterangan resmi terkait komposisi paket maupun estimasi anggaran yang dipersoalkan masyarakat.(Zai)
