Macanasia.net|Sumenep — Penanganan kasus dugaan peredaran solar subsidi ilegal di Kabupaten Sumenep memasuki fase krusial. Setelah berbulan-bulan publik mendesak aparat membongkar praktik mafia BBM bersubsidi, langkah tegas akhirnya diambil. Polres Sumenep menetapkan lima orang sebagai tersangka—dan dua di antaranya merupakan oknum wartawan berinisial E dan S.
Penetapan ini langsung menyita perhatian. Pasalnya, nama-nama yang kini terseret sebelumnya dikenal vokal mendesak aparat agar bertindak tegas terhadap dugaan permainan solar subsidi di wilayah tersebut. Alih-alih berdiri di luar pusaran kasus, keduanya justru masuk dalam daftar tersangka bersama tiga orang lainnya, termasuk seorang operator SPBU di Sumenep.
Situasi ini bak ironi yang telak. Desakan keras agar mafia BBM dibongkar kini berbalik arah. Proses penyelidikan dan penyidikan justru mengarah pada pihak-pihak yang sebelumnya gencar menggiring opini. Publik pun menyebutnya sebagai “senjata makan tuan”—retorika pemberantasan yang berujung pada jerat hukum.
Sejumlah masyarakat dan aktivis di Sumenep menyatakan dukungan terhadap langkah aparat. Mereka menilai keberanian menetapkan tersangka menjadi sinyal kuat bahwa hukum tak boleh tunduk pada tekanan, popularitas, maupun narasi yang dibangun di ruang publik.
“Kami mengapresiasi kinerja Polres. Siapa pun yang terlibat harus diproses tanpa pandang bulu. Ini momentum membuktikan bahwa hukum tidak tebang pilih dan tidak boleh kalah oleh kepentingan apa pun,” tegas salah satu aktivis.
Ia menekankan, penyalahgunaan solar subsidi bukan pelanggaran sepele. Dampaknya langsung menghantam nelayan, petani, hingga pelaku UMKM yang menggantungkan hidup pada BBM bersubsidi.
“Solar subsidi itu hak wong cilik. Ketika diselewengkan, yang dirugikan adalah rakyat kecil. Penegakan hukum harus transparan, terbuka, dan tuntas agar memberi efek jera,” tambahnya.
Kasus dugaan mafia BBM ilegal di Sumenep memang kerap mencuat dan memantik kemarahan publik. Tekanan agar aparat bertindak sempat menguat di berbagai lini. Kini, dengan lima tersangka resmi ditetapkan—termasuk dua oknum wartawan—peta opini publik berubah drastis. Sorotan tak lagi hanya pada dugaan mafia BBM, tetapi juga pada integritas pihak-pihak yang selama ini berdiri di garis terdepan menyerukan pemberantasan.
