“Bukan Beban, Mereka Penjaga: Kisah Disabilitas Menanam Harapan di Pantai Camplong”
Macanasia.net|SAMPANG – Di Hari Bumi Sedunia, ketika banyak orang sekadar memperingati, sekelompok warga yang kerap terabaikan justru memilih bertindak. Di bawah terik matahari pesisir Pantai Camplong, tangan-tangan para penyandang disabilitas ikut menggenggam bibit cemara—menanam harapan di tengah ancaman abrasi yang tak pernah benar-benar pergi, Kamis (23/4/2026).
Langkah mereka mungkin tak selalu sempurna. Gerak mereka mungkin tak secepat yang lain. Namun dari tangan-tangan itulah, pesan paling kuat tentang kepedulian lahir: bahwa menjaga bumi bukan soal siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang mau peduli.
Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) Kabupaten Sampang menghadirkan wajah lain dari mitigasi bencana—wajah yang selama ini jarang disorot. Di antara barisan TNI, Polri, BPBD, dan relawan, kehadiran penyandang disabilitas menjadi pengingat yang tak bisa diabaikan: mereka bukan beban dalam bencana, melainkan bagian dari solusi.
Satu per satu bibit cemara ditanam. Di balik setiap lubang tanah yang digali, ada keteguhan. Di balik setiap genggaman akar yang ditancapkan, ada harapan agar pesisir tak lagi terkikis, agar kampung halaman tetap berdiri, agar masa depan tak ikut hanyut bersama gelombang.
Sekretaris ULD-PB Kabupaten Sampang, Aang Djunaidi, menyebut bahwa Hari Bumi seharusnya tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi menjadi panggilan untuk bertindak—tanpa meninggalkan siapa pun.
“Teman-teman disabilitas ingin dilihat bukan karena keterbatasannya, tetapi karena kontribusinya. Kami ingin ikut menjaga, ikut melindungi,” ujarnya pelan, namun tegas.
Pohon cemara yang ditanam hari itu memang kecil. Namun kelak, ia akan tumbuh menjadi benteng—menahan angin, meredam ombak, dan menjaga daratan. Sama seperti semangat yang hari itu ditanam: kecil, tetapi perlahan menguat, menegaskan bahwa kepedulian tidak mengenal batas fisik.
Di Pantai Camplong, Hari Bumi tahun ini tidak hanya tentang menanam pohon. Ia menjadi tentang menanam pengakuan—bahwa dalam perjuangan menjaga bumi dan menghadapi bencana, tidak boleh ada satu pun yang ditinggalkan. Bahkan mereka yang selama ini paling sering dilupakan. (Zai)
