"Prof Sutan Nasomal: Presiden Harus Waspada, Daya Beli Melemah dan Pedagang Kecil Terancam Bangkrut" -->

"Prof Sutan Nasomal: Presiden Harus Waspada, Daya Beli Melemah dan Pedagang Kecil Terancam Bangkrut"

Minggu, 30 Agustus 2026, Agustus 30, 2026

 "Prof Sutan Nasomal: Presiden Harus Waspada, Daya Beli Melemah dan Pedagang Kecil Terancam Bangkrut"



Macanasia.net | Jakarta — Pakar Hukum Internasional dan ekonom Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., meminta Presiden RI Prabowo Subianto meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha dan pedagang bermodal kecil yang disebutnya semakin kesulitan mempertahankan usaha akibat melemahnya daya beli masyarakat.


Menurut Prof. Sutan Nasomal, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius pemerintah karena apabila berlangsung dalam waktu panjang dapat memperbesar jumlah pelaku usaha kecil yang gulung tikar dan meningkatkan pengangguran serta kemiskinan.


“Presiden harus sadar bahwa kondisi masyarakat saat ini membutuhkan perhatian serius. Jika daya beli terus melemah dan pedagang kecil semakin banyak yang bangkrut, pemerintah harus segera mengambil langkah konkret,” ujar Prof. Sutan Nasomal kepada awak media, Minggu (30/8/2026).


Ia mengatakan, berdasarkan pengaduan dan cerita yang diterimanya dari sejumlah pedagang kecil, sebagian pelaku usaha mengalami penurunan omzet yang cukup signifikan.


Pedagang Bakso Klaim Omzet Turun 80 Persen


Prof. Sutan Nasomal mencontohkan pengalaman seorang pedagang bakso yang disebutnya bernama Mas No. Pedagang tersebut mengaku mengalami penurunan omzet hingga sekitar 80 persen setelah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).


Menurut Prof. Sutan,  Mas No telah berjualan bakso sejak 1994 di Kabupaten Bogor. Selama puluhan tahun menjalankan usahanya, ia mengaku belum pernah mengalami penurunan daya beli pelanggan sebesar yang dirasakannya saat ini.


“Mas No menceritakan bahwa omzetnya menurun sekitar 80 persen. Dari tahun 1994 berdagang bakso Solo di Kabupaten Bogor sampai 2024, menurut pengakuannya, belum pernah mengalami penurunan daya beli pelanggan sebesar itu,” kata Prof. Sutan.


Mas No juga menyampaikan bahwa sejumlah warung makan dan pedagang yang berada di sekitar sekolah mengalami penurunan aktivitas usaha, bahkan sebagian disebut terpaksa berhenti berdagang.


Namun, menurut Prof. Sutan, kondisi tersebut perlu dikaji secara objektif agar dapat diketahui faktor-faktor yang benar-benar menyebabkan penurunan omzet para pedagang.


Pedagang Kecil Disebut Kesulitan Bertahan


Lanjut Prof. Sutan, Mas No, telah menjalankan usaha bakso selama sekitar 24 tahun di sebuah kios yang dikontrak dengan biaya sekitar Rp35 juta per tahun. Kios tersebut berukuran sekitar 5 x 10 meter dan berada di kawasan dekat Pasar Cikreteg, Caringin, Kabupaten Bogor.


Dengan kondisi usaha yang disebut semakin sepi, Mas No mengaku khawatir tidak lagi mampu mempertahankan usahanya karena modal terus tergerus.


Prof. Sutan mengatakan persoalan serupa juga dikeluhkan pedagang kecil lainnya, termasuk pedagang gorengan, tahu, dan tempe. Mereka disebut merasakan penurunan daya beli masyarakat dalam lebih dari satu tahun terakhir.


“Begitu juga dengan masyarakat pemodal kecil lainnya di seluruh Indonesia. Mereka merasakan menurunnya daya beli masyarakat sehingga berada di ambang kesulitan dan kebangkrutan,” ujarnya.


Menurutnya, pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar kepada sektor usaha mikro dan kecil karena sektor tersebut berkaitan langsung dengan sumber pendapatan masyarakat sehari-hari.


Prof. Sutan Nasomal juga menyoroti meningkatnya beban hidup masyarakat berpenghasilan rendah. Ia menilai mendapatkan penghasilan sekitar Rp4 juta per bulan saat ini menjadi semakin sulit bagi sebagian keluarga yang berada dalam kondisi ekonomi terbatas.


Ia menggambarkan, keluarga berpenghasilan rendah umumnya masih harus mengeluarkan biaya untuk tempat tinggal, makanan, dan kebutuhan sehari-hari.


“Banyak keluarga kurang mampu yang harus mengontrak rumah petakan dengan biaya sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan. Untuk kebutuhan makan sehari-hari pun sebagian harus menyesuaikan dengan kemampuan yang ada,” katanya.


Ia juga menyebut adanya masyarakat yang terpaksa mengurangi frekuensi makan karena keterbatasan ekonomi. Pernyataan tersebut, menurutnya, menunjukkan perlunya pemerintah memperkuat kebijakan perlindungan sosial dan membuka lebih banyak kesempatan memperoleh penghasilan.


Minta Pemerintah Evaluasi Kebijakan Ekonomi


Atas kondisi tersebut, Prof. Sutan Nasomal meminta Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi kinerja para menteri yang bertanggung jawab terhadap bidang ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.


Ia bahkan meminta Presiden mengambil tindakan tegas terhadap menteri yang dinilai tidak mampu menjalankan tugasnya atau tidak memahami persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.


“Presiden RI harus tegas kepada semua menterinya. Jika rakyat semakin kesulitan memperoleh penghasilan dan kebangkrutan terjadi di berbagai tempat, dampaknya bukan hanya terhadap ekonomi, tetapi juga terhadap kepercayaan masyarakat kepada pemerintah,” ujarnya.


Prof. Sutan menilai pemerintah perlu memastikan laporan mengenai kondisi perekonomian yang diterima Presiden benar-benar menggambarkan keadaan masyarakat di lapangan.


Menurutnya, jangan sampai laporan dari jajaran pemerintah berbeda dengan kondisi yang dirasakan langsung oleh pedagang, pekerja, pelaku UMKM, dan masyarakat berpenghasilan rendah.


“Laporan yang datang ke meja Presiden dari para menterinya harus sesuai dengan fakta di masyarakat. Pemerintah harus melihat langsung bagaimana kondisi masyarakat pemodal kecil dan pelaku usaha di lapangan,” katanya.


Usaha Kecil Dinilai Menjadi Indikator Ekonomi Masyarakat


Prof. Sutan Nasomal berpandangan bahwa salah satu indikator penting kondisi ekonomi suatu negara dapat dilihat dari kemampuan masyarakat kecil dalam memperoleh penghasilan dan mempertahankan kegiatan ekonominya.


Ia menilai apabila semakin banyak pelaku usaha kecil yang gulung tikar tanpa adanya solusi, pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap sistem dan kebijakan ekonomi yang berjalan.


“Majunya sebuah negara dapat dilihat dari masyarakat pemodal kecil yang mampu mendapatkan penghasilan secara sehat dan bertahan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Kalau semakin banyak yang bangkrut, pemerintah harus segera mengevaluasi kebijakan dan mencari solusi,” ujarnya.


Prof. Sutan juga meminta pemerintah menciptakan kebijakan yang tidak hanya menguntungkan pelaku usaha bermodal besar, tetapi turut memberikan ruang bagi pedagang kecil, UMKM, dan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari usaha harian.


Ia berharap pemerintah dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dampak berbagai program ekonomi terhadap aktivitas perdagangan masyarakat, sekaligus memastikan program pemerintah tetap memberikan manfaat bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.


Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., Pakar Hukum Internasional, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (Association of Young Indonesian Advocates), Ketua Umum YPLBH Prof. Sutan Nasomal, S.H., M.H., Rektor Univ. STIA-STIH Probass, serta pendiri dan pengasuh Ponpes Ass Saqwa Plus.


Penulis: Kamidi, CFLE.

TerPopuler