PESTANA Dimulai dari At-Taroqi, Sampang Bangun Benteng Pertama Hadapi Bencana -->

PESTANA Dimulai dari At-Taroqi, Sampang Bangun Benteng Pertama Hadapi Bencana

Jumat, 14 Agustus 2026, Agustus 14, 2026

 PESTANA Masuk Pesantren, BPBD Sampang Siapkan Santri Jadi Garda Tangguh Bencana



Macanasia.net|SAMPANG – Ketika gempa mengguncang, kebakaran tiba-tiba membesar atau bencana lain datang tanpa peringatan, waktu untuk berpikir panjang hampir tidak pernah tersedia. Dalam hitungan detik, keputusan untuk berlindung, menyelamatkan diri atau melakukan evakuasi bisa menentukan keselamatan banyak orang. Jum'at 14-8-2026.



Kondisi itulah yang menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang. Lingkungan pesantren dinilai perlu memiliki kemampuan menghadapi situasi darurat karena menjadi tempat berkumpulnya banyak orang dengan aktivitas yang berlangsung hampir sepanjang hari.


Pesantren At-Taroqi, Karongan, Desa Tanggumong, Kecamatan Sampang, Kamis (13/8/2026), menjadi titik awal gerakan Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA) di Kabupaten Sampang. Program tersebut juga menjadi pelaksanaan pertama di wilayah kerja Madura setelah terbitnya Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 41505 Tahun 2025.


PESTANA tidak diarahkan sekadar menjadi agenda sosialisasi. Lebih jauh, program ini ditujukan untuk menanamkan budaya sadar risiko di lingkungan pesantren sekaligus membangun kemampuan warga pesantren dalam menghadapi kondisi darurat.


Kegiatan tersebut mendapat sambutan antusias dari keluarga besar PP At-Taroqi. Hadir Ustaz Fausi Qodir selaku alumni, Ach. Fatoni, M.Pd., Wakil Sekretaris DPP Ikatan Alumni At-Taroqi (IMTAQ), serta ratusan santri yang mengikuti rangkaian edukasi kebencanaan.


Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sampang, Ahmed Baso, mengatakan kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah.


Menurutnya, pesantren memiliki karakteristik tersendiri. Ratusan hingga ribuan orang dapat berada dalam satu kawasan, sementara kegiatan belajar, ibadah, istirahat dan aktivitas lainnya berlangsung silih berganti sepanjang hari.


“Mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab BPBD. Santri, pengasuh, pengurus pesantren dan seluruh warga pesantren harus memiliki pengetahuan dasar tentang bagaimana mengenali risiko, mencegah dampak dan menyelamatkan diri ketika bencana terjadi,” ujar Ahmed.


Ia menegaskan, PESTANA harus menjadi gerakan yang benar-benar hidup di lingkungan pesantren, bukan berhenti sebagai kegiatan seremonial.


Karena itu, para santri diberikan pemahaman mengenai potensi ancaman bencana, jalur evakuasi, titik kumpul hingga langkah yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi.


“Jangan sampai ketika bencana datang kita baru bertanya harus lari ke mana, siapa yang harus membantu, dan apa yang harus dilakukan. Pengetahuan itu harus dibangun sebelum bencana terjadi,” tegasnya.


BPBD Sampang juga berharap program tersebut tidak hanya menghasilkan warga pesantren yang memahami mitigasi, tetapi mampu melahirkan kader kebencanaan dari kalangan santri.


Kader tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi penghubung informasi antara BPBD, lingkungan pesantren, keluarga dan masyarakat.


“Harapannya, dari pesantren lahir kader-kader tangguh yang mampu menjadi penyambung informasi kebencanaan kepada masyarakat. Ketika terjadi bencana, mereka tidak panik, tetapi tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.


Sementara itu, narasumber kegiatan, Aang Djunaidi, ST., MT., menilai masuknya edukasi mitigasi bencana ke lingkungan pesantren merupakan langkah penting dalam membangun masyarakat yang memiliki kesiapan menghadapi risiko.


Menurut Aang, pesantren tidak semestinya hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Dengan jumlah santri yang besar dan jaringan alumni yang tersebar hingga berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara, pesantren memiliki potensi besar menjadi pusat penyebaran pengetahuan kebencanaan.


“Bencana tidak pernah memilih tempat dan tidak mengenal siapa yang akan menjadi korbannya. Karena itu, kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi, bukan setelah bencana datang,” ujar Aang.


Ia menyebut santri memiliki posisi strategis untuk menjadi agen perubahan. Pengetahuan yang diperoleh di pesantren dapat dibawa pulang ke keluarga dan diteruskan kepada masyarakat di lingkungan masing-masing.


“Santri jangan hanya menjadi objek ketika terjadi bencana. Mereka harus dipersiapkan menjadi bagian dari solusi. Dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tepat, santri bisa menjadi garda terdepan dalam membangun masyarakat yang tangguh bencana,” pungkasnya.


Aang menambahkan, ketangguhan menghadapi bencana tidak cukup hanya dengan mengenal jenis-jenis bencana. Masyarakat juga harus memahami risiko, mampu mengambil keputusan dalam situasi genting dan mengetahui cara menyelamatkan diri secara tepat.


Antusiasme ratusan santri PP At-Taroqi menjadi sinyal bahwa pendidikan kebencanaan mulai mendapat ruang penting di lingkungan pesantren.


BPBD Sampang berharap At-Taroqi tidak hanya menjadi pesantren pertama yang menjalankan program PESTANA, tetapi juga menjadi contoh bagi pesantren lain untuk membangun sistem kesiapsiagaan secara mandiri.


Sebab, ketika bencana benar-benar terjadi, bantuan dari luar tidak selalu bisa datang dalam hitungan detik. Orang yang pertama kali berada di lokasi adalah mereka yang berada di lingkungan tersebut.


Di situlah pentingnya pesantren tangguh. Bukan sekadar tentang bagaimana menghadapi bencana, tetapi bagaimana memastikan kepanikan tidak mengambil korban sebelum pertolongan tiba.


Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan simulasi gempa bumi yang melibatkan para santri dan peserta. Simulasi tersebut menjadi ruang praktik untuk menguji pemahaman peserta, mulai dari mengenali situasi bahaya, melindungi diri ketika guncangan terjadi hingga melakukan evakuasi menuju titik aman.


Melalui PESTANA, pesantren tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi tempat belajar dan beribadah, tetapi juga menjadi ruang yang mampu melindungi kehidupan ketika bencana datang tanpa aba-aba.

Penulis : Zai

Editor   : Wrn

TerPopuler