"Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal Dorong Presiden Prabowo Gerakkan Lintas Kementerian Atasi Krisis Air dan Ancaman Gagal Panen" -->

"Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal Dorong Presiden Prabowo Gerakkan Lintas Kementerian Atasi Krisis Air dan Ancaman Gagal Panen"

Kamis, 13 Agustus 2026, Agustus 13, 2026

 "Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal Dorong Presiden Prabowo Gerakkan Lintas Kementerian Atasi Krisis Air dan Ancaman Gagal Panen"



Macanasia.net | Jakarta – Pakar Hukum Internasional dan ekonom Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H., mendorong Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto segera mengambil langkah konkret menghadapi dampak kemarau dan kelangkaan air yang mulai mengancam sektor pertanian, perikanan air tawar, serta kebutuhan dasar masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia.


Menurut Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, kondisi kekeringan yang terjadi di berbagai daerah harus menjadi perhatian serius pemerintah karena dapat memicu gagal panen, kerugian petani dan pembudi daya ikan, kenaikan harga pangan, hingga terganggunya kebutuhan air bersih masyarakat.


“Di mana-mana sebagian wilayah Indonesia, pertanian terancam gagal panen akibat aliran air yang tersendat, dangkal, bahkan mengering. Pemerintah perlu segera mengantisipasi kondisi ini agar masyarakat tidak mengalami kesulitan pangan maupun air bersih,” ujar Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H., saat menjawab pertanyaan sejumlah pemimpin redaksi media cetak dan online dari dalam maupun luar negeri melalui sambungan telepon seluler dari kantornya di Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, kawasan Cijantung, Jakarta, Kamis (13/8/2026).


Dorong Langkah Lintas Kementerian


Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal meminta Presiden Prabowo Subianto menugaskan kementerian dan lembaga terkait untuk melakukan penanganan terpadu. Menurutnya, persoalan kekeringan tidak dapat ditangani oleh satu sektor saja, tetapi membutuhkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga.


Ia menilai Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Sosial, serta kementerian dan lembaga terkait perlu bergerak bersama untuk memastikan ketersediaan air bagi pertanian, peternakan, perikanan, dan masyarakat.


Selain itu, pemerintah daerah yang mengalami kekurangan air juga dinilai perlu mendapatkan dukungan dan subsidi air agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.


“Negara harus hadir. Jangan sampai masyarakat kesulitan memperoleh air untuk memasak, sementara petani kehilangan sumber pengairan dan mengalami gagal panen. Ini harus diantisipasi sejak sekarang,” katanya.


Kemarau Berdampak pada Petani dan Pembudi Daya Ikan


Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal mengatakan kemarau yang berlangsung beberapa bulan telah memberikan dampak terhadap sejumlah kegiatan pertanian dan perikanan air tawar.


Ia meminta pemerintah memperhatikan nasib petani dan pembudi daya ikan yang mengalami kerugian akibat kekurangan air. Modal yang telah dikeluarkan, menurutnya, berpotensi tidak kembali apabila tanaman maupun ikan tidak dapat dipelihara hingga masa panen.


Ia juga menyoroti pentingnya sistem irigasi yang mampu menjamin ketersediaan air sepanjang tahun, terutama di wilayah yang berulang kali mengalami kekeringan.


Menurutnya, pembangunan infrastruktur sumber daya air harus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendukung program ketahanan pangan nasional.


Bendungan dan Danau Harus Dioptimalkan


Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal juga menyoroti pembangunan bendungan dan danau yang menggunakan anggaran negara dalam jumlah besar. Ia berharap seluruh infrastruktur tersebut benar-benar berfungsi sebagai sumber cadangan air bagi masyarakat.


“Anggaran yang besar untuk pembangunan bendungan dan danau harus memberikan manfaat nyata. Jangan sampai infrastrukturnya ada, tetapi ketika musim kemarau masyarakat tetap kesulitan mendapatkan air,” ujarnya.


Ia mendorong pemerintah melakukan evaluasi terhadap bendungan dan danau yang belum optimal, termasuk melakukan rehabilitasi atau renovasi apabila diperlukan.


Normalisasi Sungai dan Pembangunan Tampungan Air


Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal mengusulkan percepatan normalisasi dan pengerukan sungai yang mengalami pendangkalan di berbagai wilayah Indonesia.


Menurutnya, upaya tersebut perlu dilakukan secara terukur dan berdasarkan kajian teknis agar kapasitas sungai dalam mengalirkan dan menampung air dapat ditingkatkan.


Ia juga mengusulkan pembangunan tampungan air atau danau baru di wilayah yang memiliki potensi mengalami kekeringan berkepanjangan. Tampungan air tersebut diharapkan dapat menampung air hujan dan menjadi cadangan saat musim kemarau.


Selain itu, ia mendorong kajian pemanfaatan sumber air bawah tanah secara berkelanjutan untuk menambah ketersediaan air bersih, dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan daya dukung wilayah.


Rehabilitasi Hutan dan Penghijauan


Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal menilai persoalan air juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan dan kerusakan hutan.


Menurutnya, kawasan hutan yang mengalami kerusakan perlu direhabilitasi melalui penanaman kembali pohon dan pemulihan ekosistem. Langkah tersebut penting untuk membantu menjaga tata air, terutama di kawasan pegunungan dan daerah tangkapan air.


Ia juga mengingatkan pemerintah agar memperkuat antisipasi terhadap perubahan cuaca ekstrem dan fenomena iklim yang dapat memperburuk kondisi kekeringan.


Harga Pangan Berpotensi Naik


Dampak kekeringan, lanjutnya, juga mulai dirasakan pada sektor pangan. Gangguan produksi pertanian dapat menyebabkan pasokan sejumlah komoditas berkurang sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga sayur-mayur dan kebutuhan pangan lainnya di pasar.


“Kalau produksi dari pedesaan terhenti karena gagal panen, pasokan ke pasar ikut terganggu. Petani rugi, masyarakat juga akhirnya menghadapi harga pangan yang lebih mahal,” katanya.


Karena itu, pemerintah dinilai perlu memberikan perlindungan dan dukungan kepada petani yang terdampak kekeringan, termasuk melalui penyediaan air, bantuan sarana produksi, teknologi pertanian, serta kebijakan yang dapat menjaga keberlanjutan produksi pangan.


Teknologi Pengelolaan Air Perlu Dikembangkan


Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal juga mendorong pengembangan dan edukasi teknologi pengelolaan air yang dapat membantu masyarakat menghadapi musim kemarau.


Menurutnya, teknologi yang mampu mengoptimalkan sumber air, mengolah air, serta meningkatkan efisiensi penggunaan air perlu diperkenalkan secara luas kepada masyarakat, khususnya petani dan pembudi daya ikan.


Ia berharap seluruh kementerian dan lembaga terkait bersama pemerintah daerah, TNI dan Polri dapat mendukung upaya penanggulangan kekeringan sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.


“Semoga seluruh bendungan, danau, jaringan irigasi dan sumber air yang ada dapat dioptimalkan sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, pertanian dan perikanan selama musim kemarau,” kata Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal.


Ia menegaskan bahwa penguatan infrastruktur air, perlindungan lingkungan, rehabilitasi hutan, serta pemanfaatan teknologi harus dilakukan secara berkelanjutan agar program ketahanan pangan yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dapat berjalan secara maksimal.


Narasumber: Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H., Pakar Hukum Internasional dan Ekonom; Presiden Partai Oposisi Merdeka; Pendiri dan Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS; Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID); Ketua Umum YPLBH Profesor Sutan Nasomal, S.H., M.H.; serta Rektor Universitas STIA-STIH Pronass.


Penulis : Kamidi, CFLE.

Editor   : Wrn

TerPopuler